Cryogenic valve untuk industri digunakan pada sistem yang bekerja dengan fluida bersuhu sangat rendah, seperti LNG, liquid nitrogen, liquid oxygen, argon, hydrogen, dan gas cair lainnya. Valve ini dirancang agar tetap mampu membuka, menutup, dan mengontrol aliran meskipun berada pada kondisi ekstrem.
Dalam aplikasi industri, pemilihan cryogenic valve tidak bisa disamakan dengan valve standar. Suhu rendah dapat memengaruhi material, seal, stem, dan kemampuan valve dalam menjaga kebocoran. Karena itu, jenis valve harus dipilih berdasarkan fungsi sistem, jenis fluida, tekanan kerja, ukuran pipa, serta standar proyek.
Jika ingin memahami pengertian dan cara kerja dasarnya, Anda bisa membaca artikel sebelumnya tentang apa itu cryogenic valve. Artikel ini akan lebih fokus membahas jenis cryogenic valve dan kegunaannya dalam kebutuhan industri.
Kenapa Industri Memakainya?
Industri memakai cryogenic valve karena sistem suhu rendah membutuhkan kontrol aliran yang aman dan stabil. Pada aplikasi LNG dan hydrogen, misalnya, performa sealing menjadi sangat penting untuk mencegah kehilangan produk dan memenuhi kebutuhan keselamatan proses. Emerson menjelaskan bahwa aplikasi cryogenic membutuhkan kemampuan sealing yang baik, terutama pada sistem LNG dan hydrogen.
Cryogenic valve juga dipakai karena tidak semua valve biasa mampu bekerja pada suhu rendah ekstrem. Komponen valve dapat mengalami penyusutan, seal bisa mengeras, dan packing berisiko kehilangan kemampuan sealing. Untuk mengatasi hal ini, banyak cryogenic valve menggunakan desain khusus seperti extended bonnet agar area stem packing tetap lebih terlindungi dari fluida dingin.
Dalam proyek industri, kegagalan valve bisa berdampak pada downtime, kebocoran, risiko keselamatan, dan biaya perbaikan yang besar. Karena itu, cryogenic valve menjadi komponen penting pada sistem yang berhubungan dengan gas cair dan fluida kriogenik.



